Jakarta, JIA XIANG - Era digitalisasi di semua sektor, termasuk dunia hiburan tayangan film, diramalkan bakal hentikan denyut usaha bioskop.
Ternyata ramalan itu meleset. Animo penonton menikmati film di bioskop masih tinggi.
Seperti dituturkan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Suprayitno, bahwa minat warga nonton di bioskop cenderung meningkat di tengah isu penurunan daya beli masyarakat di Tanah Air.
Kehadiran bioskop, ujarnya, masih relevan di tengah gempuran digitalisasi.
Saat ini, platform over the top (OTT) atau layanan video on demand begitu marak dan mudah untuk diakses dan murah.
Namun industri bioskop bergeming. Sebab dalam praktiknya masing-masing punya pasar, sehingga tidak saling mematikan.
Kehadiran OTT, kata Suprayitno, adalah realitas yang tak bisa dihindari, tetapi pasar keduanya berbeda.
"Kita tidak bisa menghindari persaingan itu. Tapi sebenarnya market-nya berbeda, experience-nya juga berbeda antara nonton di bioskop dan di OTT," ujarnya seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (5/3/2026).
Dari sisi durasi, paparnya, format film layar lebar memiliki karakteristik berbeda dibanding konten OTT yang lebih fleksibel.
"Kalau di bioskop rata-rata durasinya 90 menit ke atas. Jarang yang di bawah satu jam," ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, menonton di bioskop menawarkan pengalaman kolektif dan kualitas audio visual yang tidak sepenuhnya tergantikan oleh layar gawai di rumah.
Kehadiran OTT, jelasnya, menjadi alternatif distribusi yang melengkapi keterbatasan jumlah layar bioskop di Indonesia.
"OTT itu alternatif, karena layar bioskop juga terbatas. Jadi sama-sama jalan saja," katanya.
Umumnya film yang tayang di OTT, tutur Suprayitno, terlebih dahulu diputar di bioskop.
Skema ini, ucapnya, sudah menjadi praktik umum di industri perfilman.[JX/Win]


Posting Komentar