Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Paling enak kalau jalan-jalan: makanannya coba-coba dan nyicip-nyicip.
Bukan karena aku suka royal, bukan juga karena aku berfoya-foya sampai menyisakan banyak makanan.
Aturanku hanya satu: aku ingin tahu rasa makanan yang berbeda-beda. Meskipun pada akhirnya sering ada makanan yang tersisa banyak.
Itu pun hanya pedoman sementara, terutama saat aku bepergian sendirian.
Di Kuala Lumpur, pagi-pagi sarapan yang umum biasanya tak jauh dari makanan yang simpel dan tidak memberatkan.
Kadang mi, bihun, atau kuetiau yang sudah menjadi rutinitas.
Tapi di kedai kopi, atau kopitiam jadul, suasananya terasa berbeda.
Selain menu-menu di atas, kadang ada variasi roti-rotiannya: roti panggang isi srikaya, butter, pandan, atau selai macam-macam. Semuanya sudah seperti ritual yang abadi.
Tapi ada satu kopitiam jadul yang menarik perhatianku.
Tampilan menunya unik, terutama bahasanya—seolah “bahasa Tarzan” yang bikin aku senyum sendiri.
Di situ tertulis: Charcoal Bread.
Apa itu? Roti yang terbuat dari arang aktif, bahan yang biasanya berasal dari kelapa atau bambu.
Tapi bagiku, penjelasan itu hanya tambahan. Yang paling menarik justru warna hitamnya. Aku belum pernah mencicipinya.
Padahal pesanan sudah banyak. Tapi lidah seperti memanggilku untuk mencoba. Nyicip-nyicip, lagi.
Walaupun rasanya tak jauh berbeda dengan roti biasa, setidaknya rasa penasaranku sudah terbayar.
Keseriusanku untuk menggali pengalaman baru pun tercapai.
Akhirnya aku sadar: yang unik belum tentu enak, dan yang sedap belum tentu cantik.***





Posting Komentar