Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Ia masih kokoh, tak berubah tampilannya. Di dalamnya tersimpan barang-barang kenangan; meja, kursi, dan rak-rak yang tetap seperti masa lalu.
Kesannya tak berbeda dari saat orang-orang masih menarik beca dan mendayung perahu.
Tak banyak yang bergeser, seolah waktu memilih diam di sudut-sudut dindingnya.
Tempat itu bukan sekadar berbicara tentang peralatan dapur atau suasana yang nyaman maupun sepi.
Di dalamnya tersimpan kerinduan untuk kembali ke masa kecil, masa remaja, hingga menjelang dewasa.
Setiap tahun, orang-orang ingin pulang untuk mencoba kembali rasa yang hilang di perantauan.
Rasa itu bukan sekadar manis atau asin. Ia tidak menawarkan kemewahan atau gedung-gedung tinggi.
Rasa itu lahir dari ketulusan batin, menghadirkan ingatan akan masa kecil yang serupa kampung halaman.
Ia hadir bukan karena nama, bukan karena benda-benda yang tersisa, melainkan karena perasaan yang mendorong untuk kembali.
Untuk mengingatkan: inilah rumahku—bangunan yang tetap seperti dulu, namun tetap nyata dan hidup di hati.
Ia tak harus selalu sama, tak perlu pula sempurna; sebab rasa dan hati tetap mengikat, tahun demi tahun.***








Posting Komentar