Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Kuliner di Kuala Lumpur tak pernah membosankan. Bukan semata karena makanannya mirip Indonesia—setidaknya dari soal pedas dan rasa.
Namun lebih dari itu, kota ini menawarkan kekayaan cita rasa karena masyarakatnya yang multi etnis.
Alhasil, ragam makanannya pun beraneka.
Mau yang bercita rasa India, Melayu, atau Chinese, semuanya tersedia lengkap.
Tak perlu meragukan keautentikannya. Banyak yang benar-benar asli dan meyakinkan, asalkan kita tahu memilih tempat dan mengenali asalnya.
Kuala Lumpur seakan kota yang selalu menggoda lidah.
Di satu sudutnya, kita bisa menemukan nasi lemak dengan sambal pekat dan wangi santan yang kuat.
Tak jauh dari situ, roti canai hangat dengan kuah kari menggoda untuk disantap.
Lalu, di kawasan lain, mi tarik dan dimsum mengepul seolah memanggil siapa saja yang lewat.
Kalau ingin benar-benar lokal, khusus hidangan Chinese untuk sarapan, lokasi ICC Pudu bisa jadi pertimbangan.
Di sini pedagang lokal memperjualbelikan resep masakan tradisional: bihun bebek, kuetiaw goreng, laksa Malaysia, hingga kue-kue jadul.
Tak jauh berbeda dengan Jalan Alor, tempat warga asing menyerbu pasar makanan lokal.
Namun ada yang terasa kontras: kunjungan warga lokal di kawasan ini justru jarang terlihat.
Jalan Alor seakan menjadi panggung kuliner yang lebih ramai dinikmati wisatawan dibanding penduduk kota itu sendiri.
Yang enak dan nyaman belum tentu mewah. Kadang, rasa justru ditemukan dalam kumpulan resep tua.***






Posting Komentar