Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Kuningnya tak seperti kulit langsat yang memudar. Ia nyala, seolah gagah di antara warna yang sejenisnya. Kadang warnanya memikat, lebih disiram pada butir-butiran yang memutih dan bertumpuk bagai gunung yang sedang galak.
Dulu, ia dijual dengan kayu batangan di atas bahu, dipikul keliling kota.
Yang makan pun rela menunggu, meski harus berbaris dalam antrean panjang.
Kini, makanan ini tersusun rapi di lapak-lapak, dan paling terkenal di negara tetangga, Malaysia.
Aku selalu tak lupa, bila ke negeri seberang, hidangan ini tak luput dari ingatan.
Kadang aku khawatir kuahnya yang kaya rempah membuat perutku menjerit.
Namun kari pekat itu, bersama potongan kambing kecil-kecil yang lunak dan renyah, membuat kenanganku ingin bolak-balik memakannya.
Di Jalan Ampang, ada sebuah restoran yang terkenal. Lokasinya di sudut jalan.
Di situ ramai dari pagi hingga siang. Yang datang bukan hanya warga lokal, tetapi juga para wisatawan yang selalu singgah untuk menyicipi makanan khas Malaysia: nasi kandar.
Variasi sayur dan lauknya banyak, tinggal kita memilih yang paling disuka.
Nasi kandar yang dikenal dalam masyarakat Melayu ini memperkaya budaya Malaysia.
Hidangan ini bukan sekadar kuah kuning yang menyala, tetapi juga harum yang mampu memanggil bangsa lain untuk merapat.***




إرسال تعليق