Asap dan Mutiara Rasa di Guangzhou

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Yang bertahan itu sedap. Yang kurang, mati pelan-pelan. Di sana tersimpan filosofi lama: kerja menuntut keseriusan.

Saat berjalan di Guangzhou, pikiran tak pernah luput dari pertanyaan-pertanyaan sederhana— makan apa, di mana, enak?

Kata-kata itu tertanam di kepala, bagai mutiara-mutiara murni yang terus menjelma.

Melewati gang-gang kecil, asap mengepul bagai angin yang berhembus di udara, sementara wangi pelan-pelan mengundang kehadiran.




Sesaat aku tertarik pada beberapa papan nama.

Yang memikat bukan tulisannya, melainkan tawaran masakan khas suku-suku di Tiongkok.

Canton, Hakka, Shanghai, Sichuan, pilihan begitu banyak, sehari pun tak habis untuk menyantapnya.

Lalu muncul soal prioritas: yang mana lebih dulu?

Aku teringat omongan seorang teman, orang Khek.

Katanya, meski berada di Guangzhou, santapan Hakka tak kalah dari menu Canton.





Ia benar. Cicipan ayam, tahu angsio, dan daging khiu yuk tak hanya membuat lidah bergetar, tetapi juga menutup santapan malam dengan rasa yang utuh dan meyakinkan.

Yang bertahan itu sedap— memang, ia dimasak dengan hati yang serius.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut