Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Aku melihat orang Kanton meracik teh dengan asyik. Ia tak bosan menuangkan air ke teko, bolak-balik.
Tangannya naik turun tanpa henti, seolah mengikuti irama musik yang hanya ia dengar sendiri.
Kalau teh bisa berbicara, barangkali ia akan berteriak kesakitan karena terus-menerus disirami air panas.
Teh begitu populer di Tiongkok; sementara benda lain yang hitam menyusul pelan-pelan, teh tetap menyapa kehadiran dengan senyum tenang.
Ia yakin, budaya yang telah hidup ribuan tahun tak mudah tergantikan oleh kehadiran kopi yang hitam pekat—apalagi yang bercampur susu dan krim bernama cappuccino.
Meski kedai-kedai bernuansa Eropa muncul satu per satu, mesin otomatis menekan tombol dan mempercepat proses, warga Kanton tetap duduk santai, tak tergesa-gesa.
Mungkin inilah budaya yang turun-temurun.***





إرسال تعليق