Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Stereotipe orang Jepang banyak dikenal oleh bangsa lain. Mereka sering dianggap sebagai masyarakat yang disiplin, peduli terhadap sesama, pekerja keras, sopan, dan tidak banyak berbicara.
Namun, apakah ciri-ciri tersebut benar-benar mencerminkan kebiasaan orang-orang keturunan Negeri Matahari Terbit, atau sekadar mitos yang berkembang di masyarakat global?
Salah satu kebiasaan yang mencerminkan prinsip hidup masyarakat Jepang adalah tachigui, yaitu makan sambil berdiri.
Kebiasaan ini dapat dijumpai di berbagai tempat umum, seperti pasar tradisional, stasiun kereta, hingga area festival.
Bagi masyarakat Jepang, tachigui bukanlah tindakan yang dianggap tidak sopan, melainkan kebiasaan yang diterima secara sosial dan telah menjadi bagian dari budaya bangsa.
Tak heran, kita bisa melihat mereka menikmati makanan dengan asyik dan tenang, meskipun di tengah keramaian.
Saya pun menyadari bahwa ruang yang tersedia di beberapa tempat kadang tidak terlalu luas.
Duduk bisa terasa berdempetan, yang bagi kita mungkin kurang nyaman.
Namun, bangsa Jepang tetap menghormati orang lain sehingga semua orang bisa menikmati hidangan meskipun di ruang publik yang sempit.
Kita tidak bisa membandingkan kenyamanan setiap orang karena setiap budaya memiliki caranya sendiri.
Seperti pepatah mengatakan, “lain lubuk, lain ikannya”, setiap masyarakat memiliki kelebihan masing-masing, dan kita tetap harus menjunjung tinggi budaya orang lain.
Budaya tachigui muncul pada masa Zaman Meiji, ketika Jepang mulai memodernisasi negaranya.
Pada saat itu, pemerintah mendorong industri padat karya, dan rakyat diminta bekerja keras.
Waktu menjadi sangat berharga, sehingga makan pun dilakukan secara cepat dan efisien, tanpa terlalu memperhatikan kenyamanan.
Kebiasaan ini akhirnya menjadi tradisi turun-temurun, dan hingga kini masih terlihat di stasiun, pasar, dan festival di seluruh Jepang.***






إرسال تعليق