Roti Gemasan di Guangzhou

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Orang Tiongkok memang kreatif. Apa pun yang bisa dimakan dan dikerjakan tak luput dari tangan mereka. 

Beragam kreasi dan makanan dihasilkan dalam berbagai bentuk; bahkan hal-hal kecil pun tak lepas dari perhatian.

Sepanjang perjalanan yang kulintasi dari Jiangxi hingga Provinsi Kanton tujuanku tak lain adalah mencari tahu apa yang berbeda dari negeriku. 

Apalagi dunia digital kini memudahkan segalanya. Maka, apa pun kusimak dan kuserap tanpa sensor.

Namun, apa yang tersaji di dunia maya kerap kali sangat berbeda dengan apa yang terlihat oleh mata kepala sendiri. Setiap pemandangan dan perjalanan memiliki warna. 

Kadangkala subjektivitas dan kepentingan ikut terbawa. Tak salah jika learning by doing menjadi peluru yang tepat.

Guangzhou, sebagai kota internasional, menjadi ruang perjumpaan beragam warga. 

Tak hanya orang Kanton yang menetap di sini. Selain berbagai suku Tiongkok, warga internasional pun hadir dan saling menyapa.

Boleh dikata, Kanton merupakan salah satu pusat kreasi kuliner yang hidup dan terus bergerak.

Kreasi menjadi daya saing yang nyata. Jarang aku menjumpai ragam roti di Tiongkok. 


Barangkali, bagi orang Tiongkok, bakpao tak kalah bersaing dengan croissant, hamburger, maupun sandwich bukan sekadar sebagai makanan, melainkan sebagai identitas rasa yang telah mengakar.

Di sebuah pusat perbelanjaan, mataku tertumbuk pada tulisan asing: “Hot Bake Moment.” 

Bunyi dan maknanya terdengar ganjil di telingaku. Apakah semua roti yang tersaji harus panas? 

Apakah ia benar-benar dipanggang di dapur, atau sekadar dipanaskan kembali di oven? 

Aku mencoba menerka. Nyatanya, saat dilayani, aku tak mencium aroma wangi seperti yang kubayangkan. 

Barangkali, tak semua yang ditawarkan harus selaras dengan kata, merek, atau citra yang dijajakan di dunia maya. 

Fakta di hadapan mata bisa berbeda.

Roti yang kupesan justru berwujud menyerupai emas atau mungkin yuan, mata uang Tiongkok yang tentu saja tak beraroma seperti roti baru keluar dari oven.


Namun tampilannya membuatku terkesima. Di hadapanku, roti tak lagi harus berbentuk bulat atau lonjong.

Bahkan batang emas pun dapat diukir dengan jujur, menjelma panganan yang menyimpan makna, bukan sekadar rasa.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut