Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Di lantai dua sebuah bangunan tua, berjajar benda-benda berkaki empat beralas kertas merah bertuliskan huruf-huruf asing.
Di atasnya, manusia-manusia duduk dalam diam.
Tak ada suara, selain pikiran yang berkelana—tentang lagu-lagu lama yang pernah dilantunkan, tentang masa pacaran, perkawinan, atau rumah tangga yang kini kalut oleh utang yang tak kunjung terbayarkan.
Sesekali mereka tampak berharap jam buka datang lebih awal.
Namun aturan tetap tegas: pelayanan dimulai pukul 08.00 pagi, tanpa kompromi.
Jam dinding berdetak pelan, nyaris tanpa tenaga, seolah tak ada dorongan untuk bergerak.
Aku melihat seorang ibu tua duduk sendiri. Mulutnya membuka dan menutup sambil menatap layar ponsel.
Entah apa yang diucapkannya—keluhan, atau hitungan sisa anggaran rumah tangga.
Barangkali tentang besok yang menuntut lebih banyak penghematan, bahkan untuk makan.
Itu ritual harian yang terjadi di Kedai Kanton.
Sepotong kenangan membuat mereka terus berkelana dalam pikiran masing-masing, entah khayalan, entah kenyataan.
Sebuah kedai hanya menampung cerita: tanpa saling sapa, tanpa perlu jawaban.
Mereka semua menunggu bunyi lonceng penanda pukul delapan—detik-detik yang membosankan, namun disyaratkan.***






إرسال تعليق