Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Ia duduk dengan palu di tangan. Suaranya menggema di sekitar trotoar kaki lima, tepat di depan sebuah bangunan.
Pak—tik—tak… pak—tik—tak.
Bunyi itu menarik perhatian orang-orang yang melintas.
Mereka menoleh pada seorang lelaki berwajah datar, tanpa senyum.
Rasa penasaran pun muncul: ia tukang, atau sekadar orang yang sedang berjualan?
Aku termasuk salah satu yang ingin tahu. Aku mendekat dan mengajukan pertanyaan kepada lelaki yang terus memalu itu—ada apa?
Ia tak menjawab. Kepalanya hanya melongok ke dalam bangunan, seolah menunjuk arah.
Aku pun masuk ke toko tanpa izin. Di etalase, berjajar benda-benda putih dalam berbagai wujud.
Aku terpaku. Ini pameran, atau tempat berjualan?
Dari balik kaca, kulihat perhiasan perak, kilauannya dingin, harganya kini melambung tinggi.
Sementara itu, bunyi pak—tik—tak masih terdengar dari teras. Aku ragu: lelaki itu tukang, penjaga, atau sekadar umpan yang sengaja dipasang?***





إرسال تعليق