Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Sungguh tak terpercaya dapat berkunjung ke perkampungan suku minoritas Miao di Gui Zhou, Tiongkok, yang menarik.
Selain budayanya beda, banyak hal yang unik. Suku Miao ( 苗族) punya bahasa sendiri. Beda dengan mayoritas suku Han( 汉簇) di negeri Panda.
Mereka hidup di daerah gunung dan perbukitan.
Mata pencaharian mereka tak lain bertani dan berternak. Sebab kondisi cuacanya mendukung, dan lahannya tersedia.
Mereka punya perkampungan dan desa tersendiri. Pemukiman desa terbesar adalah di kampung Xi Jiang qianhu.
Jumlah penduduk Miao tak banyak. Sekitar 1.000-an keluarga dengan jumlah warga Miao 6.000 jiwa.
Meskipun penduduk kelihatan sedikit, namun angka ini merupakan jumlah suku Miao terbesar di dunia.
Tak aneh bila Anda ke kota besar Tiongkok Yunan dan negara Asia, Vietnam dan negara gajah Bangkok. Suku Miao masih berdomisili di sana.
Budaya, tradisi dan cara berpakaian serta interaksi sosial pun beda. Dan bertutur kata pun tak sama dengan warga setempat.
Aksen Miao lebih keras dan suara kencang. Boleh jadi hidup di pegunungan.
Pakaian mereka unik berwarna warni dan rambut wanita suku Miao disanggul.
Identitas mereka mudah diterka karena lain daripada yang lain.
Di desa Xijiang Qianhu, suku Miao banyak berjualan snack makanan, hiasan-hiasan pernak pernik, barang tradisional dan anyaman Miao.
Semua dipajang di depan los dan bangunan ruko kayu.
Hidangannya kebanyakan sate bakar, tahu goreng, ketan bakar. Hargapun bervariasi. Satu tusuk sate bakar 1 yuan. Umumnya tamu pelanggan belanja 5 tusuk sampai 10 tusuk.
Restoran Miao juga ada beberapa. Masakan kuah ikan suan thang (ikan asam manis) adalah makanan populer di desa ini. Asam dan manis menyatu.
Bagi orang yang tak pernah cicipi, kuah ikan suan thang sama seperti minum kuah asam ikan Menado. Berani coba masakan lokal, siapa takut?
Desa suku Miao memang cantik dan mempesona. Dari ketinggian tampak kampung Miao seperti lukisan dalam khayalan. Indah, sempurna dan tak ternilai.
Awan berarak pelan-pelan di perbukitan. Tak ada kabut yang menutupi. Jelas bak air di sungai yang jernih.
Pantas dijuluki kampung di atas awan. Tak beda sungai mengalir. Air bersih tak terpolusi.
Tak kelihatan warga mencuci di sungai, apalagi mandi dan bersih-bersih. Bisa saja pemerintah Naga melarang mereka untuk melakukan hal itu.
Apalagi kini dalam tahap renovasi desa, dengan target Perkampungan Xi Jiang akan menjadi salah satu primadona tujuan kunjungan pariwisata di Gui Zhou, Tiongkok.***
إرسال تعليق