Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Mistik bukanlah kata yang asing. Tapi entah mengapa, sering kali terasa tabu untuk dibicarakan.
Kenapa begitu? Mungkin karena dalam benak sebagian orang, mistik selalu dikaitkan dengan dunia antah-berantah — dunia yang tidak nyata, atau bahkan dianggap tak masuk akal.
Sesuatu yang samar, sulit dijelaskan, dan sering kali membuat orang menjauh tanpa kata.
Aku pun mafhum. Di tengah arus modernisasi yang serba rasional, dunia mistik dianggap ilusi, tak lebih dari cerita fiksi yang penuh bayang-bayang.
Ia seperti kabut: ada dan tak ada, tapi sulit disentuh.
Aku ke Tibet bukan untuk belajar mistik. Bukan pula untuk mendalami ilmu doa, juga bukan karena panggilan, tapi boleh jadi lebih tepat disebut penasaran.
Sejak dulu, aku sering mendengar cerita orang, Tibet adalah negeri biara, negeri stupa, dan rumah bagi biksu-biksu yang memberi nasihat atau bahkan bisikan.
Banyak orang datang berbondong-bondong. “Untuk apa?” tanyaku.
Jawabnya selalu mirip, untuk berdoa keselamatan, kesehatan, atau bahkan kekayaan.
Tapi misiku berbeda. Aku datang bukan mencari mistik, bukan pula untuk mendiamkan diri untuk meditasi, atau hal-hal yang berbau spiritual.
Aku anggap keyakinan dan kepercayaan tak perlu dicari. Itu berasal dari dalam hati.
Kunjunganku ke Potala bermula dari tur wisata. Aku harus datang ke sini karena bangunan yang unik.
Aku memandang Potala dari kejauhan. Bangunan bertingkat berwarna merah putih ini membuatku terkesima.
Aku yakin bangunan ini mempunyai karakter yang tidak dimiliki bangunan lain, meskipun dia warisan istana milik Dalai lama zaman dulu. Ia tetap dipertahankan sampai kini.
Aku menaiki anak tangga satu per satu. Di dalam, aku melihat orang-orang merentangkan tubuh di lantai, telapak tangan mereka menghadap ke depan, lalu bangkit, lalu bersujud lagi. Berkali-kali. Aku hanya diam. Tak bertanya, tak mengusik.
Entah pada siapa mereka bersujud. Entah untuk apa. Tapi mereka tampak yakin. Dan mungkin itu cukup.
Apa aku harus ikut? Bersujud dan berdoa sebagai sifat toleransi.
Aku tak tahu dan tak perlu jawab. Karena keyakinan orang tak selalu sama.
إرسال تعليق