Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Aku masih penasaran, bagaimana digitalisasi bila merebak di dunia stepa.
Ibarat virus yang menyerang. Apakah anak-anak nomaden yang biasa hidup seadanya masih ingat tugas yang mulia.
Menggiring domba atau menunggang kuda? Apakah mereka sering menunggu suara ponsel mendering atau menunggu notifikasi yang datang?
Itu pasti dan tak terelakan. Aku bayangkan sapi-sapi tak ditemani, kambing-kambing dibiarkan jalan sendiri. Tanpa arah dan tuntunan yang benar.
Apalagi kambing yang mengembek sesuka hati, anak-anak gembala duduk tersendiri, bukan di lapangan dan pun bukan di sungai yang mengalir.Tapi di ruang AC yang menyendiri.
Akupun membayangkan negeriku Indonesia, jauh dari Mongolia, apakah anak-anak masih ingat cara-cara nenek moyang melaut.
Tidak menatap layar lebar, dan tidak kenal apa itu smartphone? Dan tidak perlu kompas menuju laut. Hanya tatap langit sudah bisa melaut, kini apa masih perlu melihat langit?
Menanam juga dari pengalaman, apa masih ingat cara mencocok nanam dan apa masih bisa tanam
Kapan mulai tanam, dan siap barak menampung panen?
Kini menjadi permasalahan ketika anak-anak tidak tanam, tidak berlayar dan tidak menunggang kuda, menatap langit, siapa yang menghadirkan makanan?
Apa manusia harus berubah? Tidak pilih nasi sebagai makanan utama.
Tidak kenal ikan, tidak disusupi gizi sebagai jaringan protein yang menguatkan tubuh. Tidak tunggang kuda dan menggembala.
Menjadi teka teki semua ini, apa bisa diselesaikan dengan ketukan layar, apa hanya bisa diawasi dengan menerbangkan drone, atau mungkin aktivitas zaman dulu hanya tinggal riwayat?***
إرسال تعليق