Jakarta, JIA XIANG - Daur ulang sampah menjadi energi listrik mulai jadi perhatian pemerintah daerah di Tanah Air.
Pemerintah Kota Bekasi, salah satunya. Untuk mewujudkannya, unsur pimpinan di sana pergi ke China untuk menyaksikan sekaligus mempelajari pengolahan sampah di pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).
Seperti halnya di Indonesia, produksi sampah di China pun tinggi.
Yang terbesar dari rumah tangga. Volumenya hingga ribuan ton perharinya.
Di Hainan, provinsi paling selatan China, terdapat PLTSa. Insinerator di PLTSa mampu membakar sampah berton-ton pada suhu lebih dari 850 derajat celsius.
Setiap hari, PLTSa mampu mengolah sebanyak 4.200 ton sampah rumah tangga, sehingga menghasilkan kurang lebih 1,7 juta kilowatt/jam (kwh) listrik atau setara dengan konsumsi listrik sedikitnya 200.000 rumah tangga sehari.
Transformasi sampah menjadi energi ini merupakan bagian dari eksperimen rendah karbon yang lebih luas di Hainan, yang dikenal dengan laut birunya, hutan tropis, dan sinar matahari yang melimpah.
Sejak 2021, Hainan telah menutup 16 tempat pembuangan akhir sampah rumah tangga.
Dengan delapan PLTSa yang kini beroperasi, provinsi tersebut telah mencapai nol penimbunan sampah rumah tangga yang belum diolah, menghemat sumber daya lahan yang berharga sekaligus mengurangi emisi metana, gas rumah kaca yang kuat, yang dihasilkan oleh tempat pembuangan akhir.
Kesuksesan China mustinya bisa dilakukan Indonesia, yang salah satunya hendak diwujudkam di Kota Bekasi, Jawa Barat.[JX/antaranews.com/Win]


إرسال تعليق