Kumbang Kelapa: Hama yang Memberi Berkah

Jakarta, JIA XIANG - Kumbang kelapa, di dunia pertanian, merupakan hama yang bisa menurunkan produktivitas tanaman kelapa.

Serangga dengan nama latin Oryctes rhinoceros termasuk dalam Ordo Coleoptera, Famili Scarabaeidae ini biasanya di malam hari.

Bagian pohon yang dimangsa kumbang kelapa adalah pelepah daun muda sehingga pertumbuhan tanaman menjadi tidak normal.

Akibat serangan kumbang Oryctes rhinoceros dapat menurunkan produksi buah pohon kelapa sekitar 40%.

Namun kumbang kelapa yang wujudnya unik dapat memberi berkah. Serangga ini memungkinkan untuk diawetkan. Para pengrajin membalut kumbang kelapa dengan resin sehingga jadilah suvenir berupa gantungan kunci.

Seperti yang dilakukan warga di Kecamatan Sinjai, Sulawesi Selatan,  membudidayakan serangga yang juga kerap disebut kumbang tanduk.

Budidaya kumbang kelapa telah dilakukan sejak 1997. Ratusan serangga ditempatkan dalan wadah plastik atau kaca. Tiap wadah berisi satu serangga lengkap dengan pakannya.

Warga sangat antusias membudidayakan kumbang kelapa. Setiap bulan, jumlah kumbang kelapa yang dipelihara harus mencapai 500 hingga 1.000 serangga.

Serangga sebanyak itu bisa menghasilkan puluhan juta rupiah karena diekspor ke Jepang.

Bila ada serangga yang mati, dalam proses budidaya, tidak dibuang, tapi diawetkan. Para pengrajin suvenir pasti membelinya.

Lain halnya di Vietnam. Warga di Zona 4, Bang Gia, komune Van Lang, membudidayakan larva kumbang kelapa untuk bahan pangan.

Mereka melakukannya pada 2025. Di tahun tersebut, mata pencaharian warga tidak semata mengandalkan pertanian tradisional tapi beternak larva kumbang kelapa.

Warga antusias membudidayakan larva kumbang kelapa karena untuk memulainya tak membutuhkan modal besar.

Selain itu budidaya tersebut tidak terlalu kompleks dari segi teknologi, namun memberi hasil yang signifikan.

Budidaya larva kumbang kelapa, menurut warga, tidak terlalu rumit tetapi membutuhkan ketelitian dan ketekunan. 

Dengan menggunakan ember sebagai wadahnya, larva dibiakkan secara aktif dari kepompong, yang membantu mengurangi biaya input dan mengontrol kualitas. 

Setelah sekitar 30-32 hari, kumbang berkembang menjadi pupa – tahap yang siap untuk dijual. 

Dengan siklus hidup yang pendek, model ini memungkinkan perputaran modal yang cepat, cocok untuk operasi skala rumah tangga.

Salah satu keunggulan signifikan adalah ketersediaan sumber makanan yang mudah dan murah. 

Kumbang kelapa terutama menggunakan bahan-bahan yang tersedia secara lokal seperti tepung jagung, tepung singkong, serat kelapa, pisang matang, dan lain-lain.

Hal ini menghilangkan ketergantungan pada pakan industri, sehingga secara signifikan mengurangi biaya produksi. 

Bersamaan dengan itu, pemanfaatan hasil samping pertanian berkontribusi pada perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Jadi tak selamanya hama merugikan. Kumbang kelapa, salah satu hama yang justru bisa memberi berkah.[JX/Win]

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut