Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Perang Amerika–Iran masih terus berlanjut. Masing-masing pihak mengklaim dirinya sebagai pemenang, dan tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda untuk mengalah.
Kekuatan kedua negara sulit diukur, tetapi dampaknya terasa luas hingga ke seluruh dunia. Pihak yang paling terdampak justru masyarakat global.
Konflik ini memicu kenaikan harga energi serta mengganggu rantai distribusi perdagangan dunia.
Akibatnya, harga berbagai kebutuhan pokok ikut melonjak. Tak terelakkan, makanan sehari-hari pun mengalami kenaikan di banyak tempat.
Hal serupa juga terjadi di Singapura, negara yang sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangannya.
Salah satu contohnya terlihat pada hidangan Hokkien Mee di pusat jajanan (hawker centre).
Hidangan berupa perpaduan mi kuning dan bihun dengan kuah kaldu seafood seperti udang itu kini mulai mengalami kenaikan harga.
Jika sebelumnya seporsi Hokkien Mee dibanderol sekitar 8 dolar Singapura, kini harganya mencapai 8,80 dolar Singapura.
Kenaikan sebesar 80 sen mungkin tampak kecil, namun tetap terasa sebagai tambahan beban dalam pengeluaran harian masyarakat.
Pertanyaannya kemudian, apakah rasa masih mampu menahan keinginan orang untuk tetap membeli di tengah kenaikan harga?
Mungkin tidak ada jawaban pasti. Namun satu hal yang jelas: ketika dapur ikut terdampak, konflik yang jauh terasa begitu dekat hingga ke meja makan.***





Posting Komentar