Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Dia tua, barangkali. Jika dianggap seperti manusia, usianya telah melampaui batas, hampir seabad.
Gerakannya terbatas, napasnya seakan naik turun mengikuti perubahan zaman.
Namun, sebagai sebuah bangunan, ia justru kian berharga. Tua tidak berarti kehilangan tenaga.
Sebaliknya, ia semakin berjaya karena menyimpan nilai tradisional.
Kebanyakan orang justru mencari kedai yang lama—yang klasik dan bersahaja.
Di sanalah kenangan tersimpan rapi. Ada nostalgia yang tak tergantikan, seolah waktu berbalik arah, walau hanya sekejap.
Aku pun mampir ke salah satunya.
Bangunannya sederhana, tanpa hiruk-pikuk kemodernan. Dari kursi, meja, hingga hiasan dinding, semuanya menyimpan jejak usia.
Meja marmer impor itu bukan lagi gaya masa kini.
Permukaannya retak di tengah, seperti garis waktu yang tak bisa disembunyikan.
Kursi-kursinya mungkin telah diperbarui, namun lapisan cat lama masih setia melekat.
Di tempat itu, waktu tidak benar-benar pergi.
Ia hanya duduk diam, menunggu untuk diseduh bersama secangkir kopi.
Sekilas, kopitiam itu tampak seperti kedai biasa. Namun, pajangan, koran lama, dan berbagai hiasan menunjukkan bahwa warung kopi ini telah berdiri sejak lama.
Didirikan pada tahun 1928, tempat ini menyajikan hidangan khas kedai kopi tempo dulu, seperti roti bakar dan telur setengah matang.
Teh tarik menjadi pelengkap, sementara hidangan tambahan seperti kue tiaw goreng dan bihun berkuah, mie goreng menjadi menu favorit.
Kedai kopi ini ramai pada hari Sabtu dan Minggu.
Tulisan “please wait to be seated” serta deretan kursi di depan menjadi tanda bahwa kedai bernama Yut Kee ini kerap dipadati pengunjung pada waktu-waktu tertentu.***















إرسال تعليق