Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Aku jarang melewatkan hidangan sedap, terutama saat menelusuri jejak kuliner ke mana pun langkah membawaku.
Pedoman tak selalu berasal dari alat digital; terkadang, kerumunan orang di sebuah kedai justru menjadi penunjuk arah.
Naluri pun bertanya, “Ada jualan apa di sini?”
Hal yang sama kurasakan ketika melewati Jalan Yose Rizal di Medan, Sumatera Utara.
Sekelompok orang tampak berkumpul di depan sebuah kedai, seolah menyimpan sesuatu yang menarik untuk dicicipi.
Sebuah papan nama bertuliskan “Popia Atak” menyambut rasa penasaranku. Kudapan ini mungkin tak mengenyangkan.
Bagi sebagian orang di daerah Jawa, sebutan “popia” mungkin terdengar asing; mereka lebih mengenalnya sebagai lumpia.
Ketika aku masuk ke dalam kedai, beberapa meja tersedia untuk ditempati, namun semuanya telah dipenuhi pelanggan.
Suasana terasa padat, bahkan sedikit semrawut.
Antrian pembeli mengular, sementara hanya satu kasir yang melayani pemesanan sekaligus pembayaran.
Di tengah keramaian itu, aku mulai bertanya-tanya: ada apa sebenarnya di balik kepopuleran kedai ini?
Kupesan seporsi popia rebus dan goreng. Keduanya kucicipi dengan mengunyah perlahan.
Bagiku, popia rebus terasa lebih gurih; isian bengkuang dan sayurannya masih renyah saat digigit.
Bumbu saus pedasnya pun harum dan meninggalkan jejak rasa yang hangat di lidah.
Berbeda dengan versi goreng, kulitnya justru tidak memberikan sensasi renyah yang kuat.
Karena itu, menurutku, popia rebus jauh lebih nikmat.***






إرسال تعليق