Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Boleh saja kita akui, salah satu cara untuk mengenal karakter masyarakat di suatu daerah adalah melalui pasar.
Di sana, kita bisa melihat bagaimana aktivitas warga berlangsung, sekaligus memahami denyut kehidupan mereka sehari-hari.
Selain pasar, tempat lain yang tak kalah menarik untuk diamati adalah lokasi warga menikmati sarapan.
Di tempat-tempat inilah perbincangan ringan mengalir, kebiasaan terbentuk, dan identitas lokal terasa begitu nyata.
Di kopitiam, cerita mengalir tanpa sekat—dari isu perang antara Amerika Serikat dan Iran hingga kenaikan harga minyak dunia.
Topik-topik besar itu terasa dekat, karena pada akhirnya menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dari sudut meja, terdengar bisik-bisik warga Sabah membicarakan harga minyak yang kian naik. “Gila, harga minyak naik,” celetuk seseorang, sambil menyesap secangkir kopi di kopitiam jadul Foek Yen.
Kedai kopi yang berdiri sejak tahun 1976 itu tetap setia menjadi tempat berkumpul warga lokal.
Di sana, beragam makanan sederhana tersaji, mengiringi percakapan yang hangat dan akrab—seolah waktu berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi cerita-cerita kecil yang justru membentuk wajah Borneo itu sendiri.
Di tempat ini, aku memesan sepiring nasi lemak—hidangan yang begitu lekat dengan cita rasa Malaysia.
Nasinya gurih, ditemani ikan teri, kacang goreng, dan sambal yang kaya rasa.
Sambal itu merupakan perpaduan cabai merah, gula, santan, dan rempah-rempah lain yang harum.
Aroma sambal yang menyatu dengan nasi menghadirkan kelezatan yang sederhana namun menggugah selera—seolah melengkapi pagi yang tenang di sudut kopitiam tua ini.
Kedai ini cukup sederhana, dengan meja dan kursi klasik yang telah termakan waktu. Namun, justru dari kesederhanaan itulah kehangatan terasa begitu nyata.***






إرسال تعليق