Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Mungkin Haji Jaya tak pernah menyangka dagangannya akan berkembang sejauh ini.
Berawal dari kaki lima di pinggir pasar, usaha sederhana itu perlahan tumbuh, lalu dimodernisasi oleh generasi penerusnya.
Kini, kedai yang dulu tak pernah dicita-citakan menjadi besar justru ramai dipadati pelanggan.
Aroma mie rebus yang hangat berpadu dengan sate berbumbu manis, menjadikannya idola—terutama di kalangan anak muda.
Entah ini dapat disebut takdir, rezeki, atau buah dari kerja keras yang tak kenal lelah.
Dari emperan pasar hingga menempati tempat di Jalan Penyabungan, perjalanan ini bukan sekadar usaha, melainkan kisah perjuangan yang layak dikenang.
Mungkin ini soal selera, karena tidak setiap orang memiliki rasa yang sama.
Mie rebus dengan kuah kental bercita rasa manis memang mudah disukai banyak orang.
Namun, menurutku kuah dengan sentuhan gula merah terasa sedikit terlalu manis, sementara satenya sudah enak meski bumbunya belum begitu kuat.
Meski begitu, keunikan rasa inilah yang justru menjadi ciri khas dan daya tarik tersendiri bagi para penikmatnya.
Siapa nyana dagangan nya begitu ramai. Kedatangan tamu tidak henti-henti ke kedai ini barangkali tak pernah terpikirkan oleh pemilik awal sebagaimana nama dagang yang terpampang oranyono, yang artinya tak terduga.***








إرسال تعليق