Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Mungkin ini salah satu kedai tertua di Pematang Siantar. Usianya bisa lebih dari setengah abad.
Persisnya memang tak pasti, tetapi orang Siantar yang kini berusia di atas 50 tahun hampir pasti pernah mencicipinya.
Ayam goreng menjadi andalan utama sejak generasi pertama, mulai dari Papa Ting Hua—begitu panggilan akrabnya.
Hingga kini, beliau masih aktif mengawasi dan menjaga resep masakan. Saat penulis mampir, terasa jelas bahwa cita rasa zaman dulu tetap dipertahankan.
Menu seperti fu yung hai, tauco udang, ayam goreng, hingga sup perut ikan masih diracik dengan resep yang nyaris tak berubah.
Menariknya, ayam goreng bergaya “crispy” yang populer sekarang ternyata sudah dipraktikkan sejak dulu di sini.
Untuk rasa, ayam gorengnya sedikit terasa asin, mungkin karena selera lidah penulis yang lebih sensitif terhadap asin.
Namun, tauco udangnya benar-benar menggoda; setelah disantap, lidah masih menyimpan rasa nikmat yang tertinggal.
Penulis sempat mampir pada malam hari. Resto penuh sesak.
Meja di lantai dua terisi penuh, bahkan antrean masih menunggu beberapa meja kosong.
Niat untuk makan pun diurungkan karena perut sudah terlalu lapar untuk menunggu lama.
Keesokan harinya, penulis kembali datang pada siang hari. Suasana tidak seramai malam sebelumnya, meski beberapa meja tetap terisi.
Di waktu seperti inilah, menikmati hidangan terasa lebih leluasa—terutama saat perut lapar dan pilihan menu begitu menggoda.
Ternyata, masakan jadul tetap menjadi selera orang masa kini.
Resto Sehat bukan sekadar tempat makan, tetapi juga penjaga rasa yang tak lekang oleh waktu.***






Posting Komentar