Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Warungnya sederhana. Berada di sebuah rumah tua yang tampak jadul.
Orang sekitar tentu sudah tahu bahwa itu adalah kedai yang cukup populer.
Dari luar mungkin tak terlihat istimewa, tetapi justru di situlah letak daya tariknya.
Menu yang ditawarkan pun tidak banyak macam. Mie sop berikut ikutannya sate kerang, ati ampla dan sate puyuh.
Sederhana, tanpa variasi yang berlebihan seolah ingin menegaskan bahwa yang dijual bukan sekadar pilihan, melainkan kualitas rasa yang sudah teruji.
Siapa yang tak tahu Mieso Kak Sri? Dua kata mieso, perpaduan mie dan sop telah memadukan rasa kaldu ayam yang menggoda.
Ditambah racikan rempah yang medok, kuahnya berubah menjadi kecokelatan, kaya rasa, dan begitu menghangatkan.
Aku mencoba semangkuk mieso yang masih panas. Asap yang mengepul menandakan bahwa supnya disajikan tanpa tanggung-tanggung.
Aromanya meresap dalam, menghadirkan sensasi yang langsung membangkitkan selera.
Saat kutanya kepada Pak Sri kapan ia mulai berdagang, jawabannya mencengangkan: sejak 1976.
Waktu yang panjang cukup untuk menjadikannya bukan sekadar warung biasa, melainkan legenda yang terus hidup dan dikenang.
Tamu yang datang dan pergi saat aku berada di sana seakan menjadi bukti bahwa Mieso Kak Sri bukan sekadar warung biasa.
Ia bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang keautentikan yang tetap bertahan membumi, sederhana, dan dicintai banyak orang.***








Posting Komentar