Ilmuwan China hendak Olah Air Laut Jadi Bahan Bakar

Jakarta, JIA XIANG - Air laut tidak saja bisa diolah untuk menghasilkan garam. Energi terbarukan pun bisa dihasilkan dengan mengolah air laut.

Melalui proses elektrolisis, air laut bisa menjadi hidrogen untuk bahan bakar.

Seperti yang hendak dilakukan sekelompok ilmuwan Universitas Sichuan dan Universitas Shenzhen di China.

Mereka hendak berinovasi dengan mengusulkan kerangka kerja evaluasi sistematis bagi aplikasi industri berskala besar dari elektrolisis air laut langsung untuk produksi hidrogen.

Hal itu memberikan dukungan teoretis bagi pengembangan industri hidrogen ramah lingkungan berbasis air laut.

Para peneliti dua universitas tersebut, menurut artikel penelitian terbaru yang telah diterbitkan di jurnal Nature Reviews Clean Technology, memadukan efek-efek gabungan dari berbagai faktor di lingkungan laut yang sebenarnya ke dalam sistem penelitian produksi hidrogen berbasis air laut.

Dengan penelitian itu, mereka hendak  memperluas pemahaman dari mekanisme reaksi mikroskopis ke peningkatan skala rekayasa makroskopis.

Proses elektrolisis air laut langsung dapat menggunakan air laut dan energi terbarukan lepas pantai untuk menghasilkan hidrogen. 

Namun, kompleksitas komposisi dan dinamika air laut, seperti fluktuasi komposisi, gangguan angin dan gelombang, serta korosi akibat percikan garam, menghambat transisi dari terobosan skala laboratorium ke skala industri.

Penelitian ini secara sistematis meninjau mekanisme mikroskopis utama dari elektrolisis air laut langsung dan secara kritis menganalisis penerapan serta keterbatasan berbagai pendekatan untuk peningkatan skala rekayasa.

Untuk yang pertama kalinya, penelitian ini menetapkan kriteria korelatif antara mekanisme reaksi mikroskopis dan operasi sistem makroskopis, sehingga menjembatani kesenjangan penelitian di bidang tersebut di mana wawasan dasar tingkat mikro sebelumnya tidak dapat diterapkan pada aplikasi teknik praktis.

Penelitian ini membangun kerangka evaluasi sistematis yang komprehensif dan multidimensional yang mencakup kinerja material, proses antarmuka, konfigurasi perangkat, faktor lingkungan laut, dan kemampuan adaptasi energi terbarukan, sehingga menawarkan indikator yang jelas dan terukur untuk optimalisasi seluruh rantai produksi hidrogen air laut, desain teknik, dan penerapan skala besar, urai para ilmuwan kedua universitas itu.[JX/antaranews.com/Win]

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut