Dua Rasa, Satu Akar

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Mungkin hidangan ini, berbahan utama kaki babi, satu keluarga bahkan serumpun.

Dibesarkan di berbagai daerah, namun berasal dari satu akar: bangsa Tionghoa dari Tiongkok.

Di tanah yang berbeda, mereka belajar beradaptasi.

Namun seperti keluarga yang lama terpisah, mereka tetap bisa berdampingan dan hidup rukun.

Di banyak restoran dan lorong food street, mereka hadir bersama—seiring dan seperjuangan.

Kuah mereka sama-sama gelap dan pekat, namun rasa mereka berjalan di jalannya masing-masing.

Mereka dipanggil dengan nama yang berbeda.

Yang satu dikenal sebagai kaki babi kecap hitam (tau eu bak)— gurih, manis, dan dalam, hasil dari kecap dan rempah yang dimasak perlahan.


Yang lain adalah Zhu Jiao Cu, kaki babi dalam balutan cuka hitam dan jahe, dengan rasa asam yang hangat dan menggugah.

Sekilas tampak sama—sama hitam, sama-sama pekat.

Namun ketika lidah mencicipinya, terasa jelas, dua rasa yang lahir dari jalan yang berbeda.

Ketika aku berada di Singapura, aku  mencoba seporsi tulang babi di sebuah restoran di Singapura.

Awalnya hanya karena melihat tamu di sebelah meja menyantapnya dengan santai dan penuh nikmat.

Aku tahu itu tulang babi—digigit, dihisap, dan dirasakan.

Namun saat itu, aku bahkan tidak tahu namanya.

Baru kemudian kusadari bahwa yang kucicipi adalah tulang babi kecap, tanpa cuka, tanpa asam.


Namun ini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari cerita yang lebih panjang.

Dan pada akhirnya, ini bukan tentang tampilan, bukan pula sekadar soal nama.

Yang membuatku terkesima adalah bagaimana satu asaldapat melahirkan begitu banyak rasa.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut