Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Mengapa sebuah rasa perlu penghargaan?
Bingung? Boleh saja.
Ada lagi pertanyaan. Mengapa hidup dan mati sebuah restoran atau kedai makan seolah ditentukan oleh sebuah pengakuan?
Bukankah rasa itu subjektif—tak pernah benar-benar universal?
Lidah si A tentu berbeda dengan lidah si B. Apa yang pahit bagi seseorang bisa terasa nikmat bagi yang lain.
Manis, asin, pedas—semuanya diterjemahkan melalui pengalaman, budaya, bahkan suasana hati.
Jika demikian, mengapa kita masih memerlukan lembaga penilaian seperti Michelin Guide?
Pertanyaan ini wajar. Kita hidup di zaman yang gemar memberi bintang, skor, dan label.
Seolah-olah kenikmatan dapat dihitung dan pengalaman bisa diperingkat.
Padahal makan bukan sekadar perkara teknik, tetapi juga kenangan, emosi, dan kedekatan.
Sepiring makanan bisa mengingatkan pada rumah, pada ibu, pada masa kecil—sesuatu yang tak mungkin sepenuhnya diukur oleh sistem penilaian mana pun.
Kita menyaksikan banyak restoran dianugerahi bintang Michelin—kebanyakan berkonsep fine dining dan kerap berakar pada tradisi kuliner Barat.
Penghargaan itu membawa prestise, bahkan mampu mendongkrak harga serta popularitas.
Namun di sisi lain, ia menyisakan pertanyaan: apakah kelezatan harus selalu hadir dalam kemewahan?
Apakah cita rasa sederhana tak layak mendapat sorotan yang sama?
Bagaimana dengan kuliner di food court, atau warung kecil yang sederhana, tetapi unggul dalam rasa.
Banyak di antaranya dimasak dengan keahlian bertahun-tahun, dengan intuisi yang terasah oleh pengalaman panjang.
Apa sebenarnya yang dinilai oleh lembaga internasional—kemewahan ruang, konsistensi layanan, kualitas bahan, reputasi chef, atau murni kemampuan mengolah rasa?
Setidaknya, kuliner bukan semata soal tempat yang nyaman atau restoran yang mewah.
Bukan pula sekadar tentang mahalnya bahan baku.
Keandalan teknik memasak, ketepatan bumbu, keseimbangan rasa—itulah yang sering kali menjadi inti dari kenikmatan.
Dan justru di situlah paradoksnya: sesuatu yang paling menentukan, kadang lahir dari dapur sederhana, bukan dari gemerlap ruang makan.
Pada akhirnya, lembaga penilaian mungkin berguna sebagai penanda standar profesional.
Namun ia tak pernah bisa sepenuhnya mewakili pengalaman personal seseorang saat menikmati makanan.
Bintang boleh bersinar, tetapi rasa tetap bersemayam di lidah masing-masing.
Tak sedikit makanan jalanan membuat orang terkagum-kagum, tetapi tanpa bintang ia tetap berada di pinggir sorotan.
Apakah kualitas memang selalu membutuhkan legitimasi?***







Posting Komentar