Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Ia bukan pemandangan. Bukan bukit kapur yang aktif. Bukan pula air yang tenang.
Ia juga bukan lukisan. Ia nyata.
Ia hidup dan kata-kata tak pernah benar-benar cukup untuk menjelaskannya.
Justru di situlah aku hadir: merenung.
Aku duduk di atas bambu yang tersusun sejajar—kuat, namun tak pernah menghitung beban.
Aku menyusuri langit biru, sementara embun samar perlahan memberi jalan bagi cahaya.
Dalam batin aku bertanya, mengapa Yang Shou begitu mempesona.
Tak bosan kupandang ia, seolah jiwa dan ragaku menatap gunung, sementara seluruh hati memeluk angin.
Ini bukan metafora, bukan pula polesan.
Ia hidup, dan memiliki jiwa yang menenangkan.***








Posting Komentar