Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Banyak hal unik yang dapat kita temui dalam perjalanan ke Jepang. Tak jarang, berbagai kebiasaan masyarakatnya menimbulkan pertanyaan di benak kita.
Namun, seiring waktu, jawaban atas keheranan tersebut perlahan dapat kita pahami.
Salah satu jawabannya terletak pada budaya mereka.
Ketelitian dalam bekerja merupakan bagian dari kebiasaan sehari-hari orang Jepang.
Sikap ini dikenal dengan istilah kichomen, yang menggambarkan cara bekerja yang sangat teliti, rapi, dan memperhatikan setiap detail.
Kadang aku berpikir, apakah sikap seperti ini terlalu berlebihan. Namun, pandanganku itu bisa saja keliru.
Aku melihat langsung sikap ini saat berada di pasar tradisional Nishiki Market di Kyoto.
Para pelayan di deretan kedai-kedai kecil melayani pembeli dengan penuh perhatian, semangat dan ketelitian.
Mulai dari menyusun barang dagangan, menghitung pembayaran, hingga membungkus pesanan dengan rapi.
Perhatianku tertuju pada sebuah kedai kecil yang hanya menjual sate, bakpao, dan roti. Seorang pelayan laki-laki sedang asyik memanggang sate.
Alat panggang hanya memuat dua tusuk sate, tetapi ia membolak-balik setiap tusuk dengan sangat cermat.
Perhatiannya begitu detail, seolah dalam benaknya hanya ada satu tujuan: “membuat sate terbaik”.
Mungkin ia juga berpikir bahwa setiap tusuk beef stew harus sempurna.
Ketelitian dalam memanggang sate ini membuatku kagum.
Siapa sangka, proses sederhana seperti memanggang bisa dilakukan dengan tingkat detail yang begitu tinggi.
Tampaknya budaya yang mendidik mereka sejak kecil menjadikan orang Jepang begitu teliti dan memperhatikan detail dalam setiap pekerjaan.
Rasa penasaran itu membawaku ke sebuah cafe. Aku melihat seorang pelayan melayani tamu dengan sangat cekatan.
Cafe lumayan besar, tapi pelayan ini tetap menyapa semua tamu dengan sopan, mengatur pesanan, dan berjalan cepat di antara meja-meja.
Aku terkesan bagaimana satu pelayan bisa mengatur semuanya dengan sempurna, tanpa kehilangan ketelitian atau sopan santun.
Boleh jadi, orang Jepang dalam berkarya selalu teliti dan mendetail. Mereka memperhatikan hal sekecil apapun.
Hal itu juga kulihat dalam pelayanan taksi. Mereka tidak membiarkan kita mengangkat koper.
Mereka mempersilakan kita masuk ke dalam taksi, seolah itu memang tugas dan kewajiban mereka dalam melayani tamu.
Dari pengamatan ini, aku menyadari bahwa ketelitian dan perhatian terhadap detail orang Jepang bukan sekadar kebiasaan, tetapi bagian dari filosofi hidup orang Jepang.***















Posting Komentar