Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Sudah lama tak kudengar suara yang nyaring itu.
Bukan karena aku tak menyukainya; mungkin suaranya kerap mengagetkan orang, hingga mereka memilih menjauh.
Di negeriku, suara itu hanya terdengar saat keramaian, itupun secara sembunyi-sembunyi, tak pernah benar-benar formal.
Namun orang-orang tetap penasaran: mengapa tak mencoba sekali saja? Bukankah ia asyik dan memukau?
Saat disulut, suara ledakannya bagai peluru ditembakkan ke langit, berkali-kali, mengikuti kehendak sang penembak.
Itupun membuat orang tertawa seolah hanya mainan lucu-lucuan.
Di Yang Shuo, Guilin, aku kerap mendengar letupan bertubi-tubi. Rasa ingin tahu menarikku mendekat.
Aku bertanya pada penjual jagung: apakah boleh membunyikan petasan renteng yang suara ledakannya seperti berondongan peluru senjata otomatis.
Pedagang itu mengangguk, tersenyum gembira, lalu menunjuk ke arah tempat penjualannya.
Petasan renteng, yang digantung di pohon, disulut tak hanya membuat hati riang dan penasaran, tetapi juga membiarkan suara itu akhirnya bebas menggema di udara.***





Posting Komentar