Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Sudah lama aku merindukan makanan ini. Bukan karena aku tak menyukai yang biasa kutemui di negeriku, melainkan karena ingatan tentang asalnya, Fu Zhou— tak pernah menjauhi pikiranku.
Di berbagai negara Asia, aku menemukan kedai yang menjualnya.
Namun rasanya selalu berbeda dari kenangan masa kecil, saat ibuku memasak dengan penuh ketelatenan.
Ikan besar diiris sepotong demi sepotong dibentuk bulat seperti kelereng, mainan anak-anak ketika musim kelereng tiba.
Setiap bulatan ia dandani dengan cermat, seolah bukan sekadar makanan, melainkan kasih yang hendak dihidangkan.
Kini bola-bola kecil itu hadir dalam banyak versi: sapi, ayam, udang, bahkan babi.
Dan aku berada di kota yang diyakini sebagai asal-usulnya, tempat aroma pasar tradisional perlahan memanggilku pulang ke masa lalu.
Di pasar, kota seolah mematikan mesinnya.
Yang tersisa hanya suara manusia, bisik, teriak, tawa— saling beradu di antara uap kuah dan langkah kaki.
Hidangan beraneka rupa. Kejelian mata dan ketajaman hidung menuntunku, hingga pandanganku tertahan pada sebuah kedai dengan dagangan bulat-bulat.
Aku mendekat dan bertanya, “Ce se sem mok tung si?”
Jawabannya singkat, sambil tersenyum, “Ie yen.” Bakso ikan. Tepat seperti yang kucari.
Lidahku tergoda seolah hidangan ini tak boleh kulewatkan.
Tanpa ragu, kupesan seporsi, ikut menyerap keautentikan aroma warga Fu Zhou.
Bola putih seperti salju itu merayu lidah. Digigit, terasa kenyal dan gurih.
Gigitan pertama membekas di ingatan membawaku kembali ke masa kecil, saat ibu mendaur tepung da mengiris ikan kecil di dapur rumah.
Aku pun tersenyum tanpa sepatah kata.***















Posting Komentar