Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Sebutannya jelas, terpampang di atas pintu masuk.
Orang yang lewat tak malu menatap, bahkan berkomentar.
Inilah yang dicari: mudah ditemukan, tak perlu Google Maps atau Baidu menunjukkan jalan.
Ia tampak gagah dan berwibawa, seolah setiap saat dicari orang. Dan pengunjung tak perlu menebak-nebak saat datang.
Di Guangzhou, nama adalah segala-galanya. Kota internasional seribu etnis, di mana orang datang dan pergi tak perlu pamit, dan musim pun tak perlu ditatap.
Suasana pun hidup. Pasar ramai dengan belanjaan, restoran-restoran memamerkan jati diri mereka.
Ada yang hurufnya mentereng, bagai tulisan internasional: “Good taste, otherwise no pay.”
Seolah bisikan dari pemilik kedai: kualitas makanan dijamin—tak usah bayar kalau tak enak.
Kalimat itu tegas, percaya diri, tapi penuh humor, menjadi bagian dari karakter kota dan pengalaman kuliner di Guangzhou.
Karenanya makanan enak tak perlu identitas, kualitas yang sederhana secara diam-diam menghilang.***
















Posting Komentar