Pagi di Tianhe, (天河) Guangzhou

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Pagi datang perlahan, tanpa perlu disapa. Jalanan masih sepi. 

Sebagian warga barangkali masih enggan berbenah diri—tak ada waktu yang harus dikejar, dan pagi dibiarkan berjalan dengan caranya sendiri.

Kegiatan mulai hidup di Pasar Tianhe. Suara ketukan terdengar dari kedai babi: hentakan beban mengena di atas talenan.


Put, pat, pat—bunyi itu tak henti-henti, menyalak, memecah sunyi pagi. 

Aku melihat ia menarik usus babi; satu per satu diangkat dan dipisahkan dari daging yang utuh, seperti mencari jerami di batang padi. 

Tak ada suara bisikan, tak ada komat-kamit. Seolah ini tugas yang harus diselesaikan sebelum cahaya benar-benar turun dari langit.



Sementara itu, di kedai lain, seorang ibu sibuk mengutak-atik mesin hitung. 

Ia sigap dan serius memperhatikan alat di tangannya, memastikan angka tak tertukar bolak-balik.

Itulah irama dan suara pagi—rutin, menggema, sebelum matahari berpindah ke waktu lain.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut