Merah yang Menggoda Lidah

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Aku selalu menatap gerai yang menjual sesuatu. Rasanya ingin segera memilikinya. 

Tampilannya memerah, bersanding dengan potongan kecoklatan yang mengkilap. 

Aku ragu dan takut apakah daging itu berminyak atau justru keras. 

Namun, kalau tak dicoba, bagaimana tahu apakah ia benar-benar juicy dan enak?

Masalahnya, setiap kali memesan, seolah harus tunduk pada aturan penjual. 

Tak ada tawar-menawar antara porsi kecil atau besar. Ukuran apa pun, harganya sama.

Semua itu kutemui di Kanton—kota yang sering disebut memiliki selera kuliner yang tak jauh berbeda dengan Hong Kong, bekas koloni Inggris yang namanya lebih dulu mendunia.

Merah-merah bergaul dengan kecoklatan warnanya selalu tampak serasi di etalase kedai yang kulewati di kawasan Tianhe. 

Air liur nyaris tak tertahan, ingin keluar dari mulut yang haus oleh hidangan yang dipajang. 

Karena kedai ini warung ekonomis, seporsi nasi pulen dengan topping merah-merah menjadi pilihan terbaik.

Sajian itu tak langsung kusantap. Aku menghirup aromanya yang mantap—wanginya mengingatkanku pada gorengan yang baru keluar dari kuali berminyak. 

Garing, mestinya, pikiranku. Dugaanku tak meleset. 

Sepotong daging bernama char siu kukunyah perlahan: juicy, lunak, dan tak lengket di gigi.

Secuil daging merah tak hanya dipamerkan; mencuri pandang saja sudah cukup membuat lidah tergoda.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut