Dim Sum dan Sepotong Cerita di Masa Lalu

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Kuliner di Guangzhou terasa kurang lengkap tanpa mencicipi dim sum.

Hidangan kecil yang bersahaja—tak mahal, dan menghadirkan rasa nyaman. 

Secangkir teh bukan sekadar melepas dahaga; ia membuka ruang bagi cerita.

Orang-orang duduk berjam-jam di kedai: berbagi kisah, tertawa pelan, sambil menikmati sepotong kue kecil yang diam-diam mengantar ingatan pulang ke masa lalu.

Orang-orang tua saling bercerita. Ke kanan dan ke kiri, tanpa kisah yang mengada-ada.




Kata “andai kata” nyaris tak terdengar lagi. Yang ada hanyalah kehidupan sehari-hari: tentang badan yang mulai sering sakit, tentang hari-hari yang dijalani apa adanya. 

Bukan dongeng baru—hanya kenyataan yang diterima dengan tenang.

Di suatu kedai Diandude (点都德), kebanyakan orang tua mungkin datang bukan untuk menilai teh Pu’er atau Tieguanyin—bukan pula membahas asal-usul daun dari desa mana, atau khasiat yang konon menyembuhkan ini dan itu. 

Mereka datang untuk duduk. Untuk ditemani secangkir teh hangat, sepiring dim sum, dan waktu yang tak lagi dikejar-kejar. 



Di sana, teh tak perlu dijelaskan; ia cukup diminum. 

Seperti hidup, cukup dijalani dan dinikmati tanpa suatu keluhan.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut