Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Kenikmatan dan kebahagiaan adalah dua hal yang berbeda, tetapi saling terkait dan bertautan.
Bagi orang lanjut usia (lansia), duduk berkumpul adalah sebuah kenikmatan.
Lalu, apakah mereka bahagia? Pertanyaan ini sederhana, tetapi mencerminkan kejadian sehari-hari.
Usia lansia bukanlah sesuatu yang dipaksakan, melainkan proses alamiah.
Pada pagi hari, aku menyusuri kawasan Beijing Road dan melihat sekelompok orang berkumpul, bercakap-cakap ngalor-ngidul.
Ada yang tertawa, dengan wajah menua penuh pori-pori, dan ada yang berdebat seolah tak saling mengalah.
Mereka berkumpul bukan karena terpaksa, melainkan karena intuisi hati mereka seakan menuntut rutinitas ini setiap hari.
Kelompok ini menikmati kondisi yang ada—tak perlu kopi, cukup teh dengan cakwe sebagai pendampingnya.
Kebiasaan itu menjadi semacam ritual yang tak boleh ditinggalkan.
Mereka merasakan kenikmatan, tetapi apakah itu berarti kebahagiaan?Kebahagiaan mereka tampak hanya sesaat.
Lansia di Guangzhou tetap menghadapi kebutuhan hidup yang nyata, seperti biaya hidup, perawatan kesehatan, dan rumah tinggal yang memadai.
Dengan demikian, kenikmatan dari kebersamaan tidak selalu cukup untuk menghadirkan kebahagiaan yang menyeluruh; kesejahteraan dan keamanan hidup tetap menjadi faktor penting bagi kebahagiaan jangka panjang.***









إرسال تعليق