Sawah Berundak di China dan Bali, Budaya Pertanian Turun Temurun Jadi Obyek Wisata Menawan

Jakarta, JIA XIANG - Pematang sawah atau sawah terasering terbukti telah menjadi obyek wisata satu kawasan.

Terlebih keberadaan pematang sawah itu merupakan hasil budaya pertanian masyarakat yang tetap hidup sejak lama.

Setidaknya di China selatan dan Bali terdapat kawasan pertanian dengan sawah berundak yang menjadi destinasi wisata.

Bila berada di China selatan, berliburlah ke wilayah Longsheng, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi.

Di sana wisatawan bisa menikmati Longji, yang juga dikenal sebagai Sawah Terasering Longsheng.

Dibangun sejak Dinasti Ming dan selesai pada awal Dinasti Qing, Sawah Terasering Longji memiliki sejarah lebih dari 650 tahun.

Area sawah terasering ini tersebar di ketinggian antara 300 meter hingga 1.100 meter di atas permukaan laut, dengan kemiringan terasering tercuram mencapai 50 derajat.

Nama "Longji", yang berarti "Punggung Naga", diberikan karena bentuk sawahnya yang unik. Barisan terasering yang tersusun rapi menyerupai sisik naga, sementara puncak pegunungannya tampak seperti tulang punggung naga.

Selain sebagai lahan pertanian untuk menghasilkan pangan, area persawahan ini juga memberikan penghasilan bagi masyarakat lokal melalui pariwisata berkat pemandangan yang memukau.

Sementara di Bali, pun terdapat sawah berundak yang tak kalah menarik. Tempatnya di Desa Wisata Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.

Berlatar belakang Gunung Batukaru, membuat bentang alam sawah terasering atau berundak di sana semakin indah.

Pelancong juga dapat menikmati suasana sawah dengan berjalan kaki atau bersepeda di jalur khusus yang sudah disediakan.

Selain itu, wisatawan pun bisa menikmati pemandangan alam sembari menikmati kopi atau makanan yang ditawarkan sejumlah kedai di sepanjang desa wisata itu.

Kawasan persawahan Jatiluwih ditetapkan sebagai warisan budaya dunia pada 2012 oleh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya (UNESCO).

Desa berhawa sejuk itu menerapkan konsep pariwisata berbasis keberlanjutan lingkungan.

Sebelumnya, Desa Wisata Jatiluwih terpilih masuk 55 desa wisata predikat baik dari total 260 desa wisata lain yang berasal dari 60 negara anggota Badan PBB Bidang Pariwisata (UN Tourism).

UN Tourism menyebutkan predikat baik itu dinilai berdasarkan sembilan indikator yakni sumber daya alam dan budaya, promosi dan konservasi budaya, keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan, integrasi rantai nilai dan pembangunan pariwisata, tata kelola dan prioritasi pariwisata, konektivitas dan infrastruktur serta keselamatan, keamanan dan kesehatan.[JX/antaranews.com/Win]

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut