Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - “Welcome to Chongqing”, yang terpampang besar di Chongqing Jiangbei International Airport, sesungguhnya terjemahan dari 重庆江北国际机场.
Aksara itu tak sekadar diam terpampang, tetapi bergerak dari kanan ke kiri.
Sebab, layar tersebut tak hanya menampilkan iklan, melainkan juga berbagai informasi seputar Chongqing.
Kala itu, pikiranku melayang pada aneka hidangan khas Chongqing.
Apa saja? Banyak jenisnya.
Ada ikan, ayam, sapi, hingga babi, yang diolah dengan racikan rempah dan resep khas Chongqing.
Namun, semua hidangan itu seolah tak lepas dari satu kata: pedas.
Kata orang, masakan Chongqing tak jauh berbeda dengan masakan Sichuan.
Keduanya sama-sama dikenal dengan cita rasa pedas yang kuat, berpadu dengan sensasi kebas khas lada Sichuan.
Lantas, bagaimana dengan ikan Chongqing?
Ikan-ikan yang hidup di perairan Sungai Yangtze dan Jialing ini menjadi bagian dari kekayaan kuliner setempat.
Dagingnya dikenal lembut, terlebih setelah diolah dengan racikan bumbu khas Chongqing yang kaya rempah.
Namun, jangan salah! Begitu menyentuh lidah, sensasi pedas dan kebasnya bisa membuat lidah pun terkadang minta ampun.
Tak lengkap rasanya bila hanya bercerita. Mengapa tak mencoba sendiri lembutnya daging ikan khas Chongqing?
Seorang pelayan menawarkan menu ikan. Pilihannya bermacam-macam.
Kupilih ikan air tawar khas Chongqing yang ukurannya tak terlalu besar.
Aku pun meminta agar tingkat kepedasannya dikurangi (less spicy).
Menariknya, ikan itu datang dalam sebuah panci besar, dengan bentuk sajian yang terbungkus kertas lilin.
Aku hendak membuka bungkusannya, tetapi pelayan segera mengingatkan, “Jangan, tunggu lima menit. Biar bumbunya lebih meresap.”
Lima menit terasa seperti waktu yang tak bergerak.
Lama rasanya menunggu. Lidah serasa ikut tak sabar, apalagi aroma rempah dari ikan yang tersaji mulai menguar ke udara.
Wanginya begitu tajam menusuk hidung, seolah menantangku untuk segera mencicipinya.
Akhirnya, bungkusan pun dibuka. Sepotong daging ikan segera kusendok.
Tak cukup satu suapan, aku pun melanjutkan ke suapan kedua, ketiga, dan seterusnya.
Tak banyak kata terucap, selain "luar biasa!" Gurih dan sedap.
Bukan hanya bumbunya yang meresap sempurna, sensasi kebas di lidah justru membuatku semakin menyukainya.***







Posting Komentar