Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Pesawat perlahan turun dari ketinggian, bersiap menapak tanah.
Di balik jendela, tampak awan berduyun-duyun, seolah saling mengejar tanpa tujuan yang pasti.
Biru dan putih langit mempercantik angkasa.
Di sebuah negeri yang jarang mendapat sorotan dunia, aku menginjakkan kaki di daratan Paro yang penuh teka-teki.
Ada apa di negeri yang kerap dikaitkan dengan kebahagiaan?
Bagaimana kebahagiaan itu terlihat dalam pandangan orang-orang yang tinggal di sana?
Tak mudah menemukan jawabannya.
Aku berkendara dari Paro menuju kota Thimphu. Sepanjang jalan tampak suasana yang sederhana.
Tidak banyak gedung menjulang tinggi. Seolah-olah, ketinggian bukanlah sesuatu yang perlu dikejar oleh orang-orang di negeri ini.
Atau bisa saja karena prinsip kehidupan yang terasa dekat dengan pepatah yang kita kenal: duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Sehingga tak perlu kejar-kejaran dengan kemajuan apa pun.
Meskipun demikian, anak-anak muda hingga orang tua tak luput dari genggaman telepon seluler.
Teknologi tetap menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Tak tampak pula keinginan masyarakat untuk saling mengunggulkan diri.
Aku pelan-pelan menyusuri jalan raya. Semuanya berjalan dengan tenang.
Tak tampak orang-orang tergesa-gesa menuju tujuan.
Tak ada kesan bahwa kemewahan membuat mereka lebih bahagia.
Kesederhanaan pun tampaknya tidak membuat mereka merasa kekurangan.
Lalu, dari mana kebahagiaan itu harus dinilai? Dengan ukuran apa kebahagiaan dan ketidakbahagiaan seseorang dapat ditentukan?
Mungkin, kebahagiaan memang tidak selalu tentang apa yang dimiliki, melainkan tentang bagaimana seseorang memandang kehidupan.
Itulah Negeri Naga Putih, yang disebut Bhutan.***


















Posting Komentar