Pakora dan Roti Puri, Sarapan di Thimphu yang Dingin

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Hari telah pagi. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh. 

Namun, matahari masih malu-malu untuk bangun, seolah enggan memperlihatkan energi cahayanya yang kuat. 

Aku maklum, sebab di luar hujan turun rintik-rintik. 

Suasana seperti ini tentu membuat sang raja siang enggan menampakkan diri, membiarkan cahaya pagi berpendar lembut di antara kelabu langit.

Lantas, mau apa pagi ini dalam suasana dingin? 

Bersembunyi di balik selimut, menanti hujan reda, atau keluar dari hotel untuk mencari sarapan lokal?


Mungkin pilihan kedua adalah ide yang baik. 

Bukankah perjalanan tak hanya tentang wisata dan melihat objek-objek menakjubkan, tetapi juga tentang menyelami kehidupan serta memahami suasana lokal?

Suasana pagi di Thimphu terasa berbeda dari kota-kota Asia lainnya, seperti Saigon di Vietnam, Singapura, dan Bangkok. 

Di sana, aktivitas pagi terasa hidup dan hangat. 

Kuali, gelas, dan piring berdentang nyaring, seolah menjadi musik pembuka hari bagi mereka yang mulai beraktivitas.

Di Saigon, Vietnam, aroma bubur yang menggoda sudah tercium sejak fajar, menyeruak dari warung-warung di tepi trotoar. 


Sementara itu, di Singapura, pusat-pusat kuliner di Chinatown mulai membuka diri, bersiap menyambut para pengunjung yang datang.

Berbeda dengan kota-kota tersebut, Thimphu, ibu kota Bhutan, masih terasa lengang. 

Aktivitas dapur belum menunjukkan tanda-tanda kesibukan. 

Belum terdengar riuh kuali dan peralatan masak yang seolah memanggil orang untuk datang. 

Lalu lintas di jalanan pun belum tampak ramai.

Mungkin begitulah irama pagi di kota ini. Warganya seolah tak harus tergesa-gesa memulai hari.

Terlebih, udara dingin membuat siapa pun rasanya ingin berlama-lama di rumah, menikmati hangatnya selimut sebelum benar-benar memulai aktivitas.



Kutelusuri jalanan yang masih lengang. Siapa tahu, di antara deretan bangunan yang belum sepenuhnya terjaga, kutemukan sebuah kedai yang sudah buka. 

Setidaknya, ada secangkir teh hangat dan sepiring sarapan lokal yang bisa mengusir dingin pagi itu.

Ternyata, kedai lokal ini menawarkan menu makanan sederhana, meskipun buka selama 24 jam. 

Pilihan menunya tidak banyak. Ketika kutanya kepada penjual tentang rekomendasi makanan lokal untuk sarapan, ia menyarankan, “Pakora dan roti puri.”

Kucicipi keduanya satu per satu. Pakora tak jauh berbeda dengan bakwan di Indonesia.

Kukunyah perlahan, merasakan sayuran berupa campuran wortel, buncis, dan tomat yang menyatu dalam setiap gigitan.

Teksturnya lembut, tetapi rasanya cenderung hambar. 

Sepertinya bumbu yang digunakan memang sederhana, sehingga rasanya tak jauh berbeda dari bakwan di Indonesia, hanya saja lebih ringan di lidahku.

Kemudian, kugigit sepotong roti puri. Bentuknya mirip paratha, meski tentu ada perbedaan. 

Yang membuatnya terasa berbeda adalah kuah kuning pendampingnya, dengan cabai dan krim sebagai bahan yang tampak menonjol. 

Barangkali, perpaduan rasa seperti ini masih terasa asing di lidahku.


Kedua hidangan sarapan ini justru membuatku semakin penasaran. 

Mungkin masih ada kuliner lain di Thimphu yang bisa memberiku pengalaman berbeda. 

Sebab, perjalanan kuliner bukan semata-mata tentang menemukan makanan yang sesuai dengan selera, tetapi juga tentang mengenal cita rasa yang tumbuh dari kebiasaan dan budaya setempat.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut