Momo: dari Tibet, Menggoda Lidah di Bhutan

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Momo bukan nama panggilan seseorang, juga bukan sejenis minuman. Namun, namanya sangat populer di Bhutan. 

Bentuknya putih dan terbuat dari tepung. Permukaannya kadang diolesi minyak, seolah-olah sedang bersolek agar tampil memesona.

Di Bhutan, banyak restoran menjual momo dalam berbagai varian. 

Ada yang berisi daging sapi, ayam, atau sayuran. 

Awalnya, momo bukanlah hidangan asli Bhutan. Makanan ini berasal dari negeri tetangga, Tibet. 

Bisa jadi, para pedagang atau penggemarnya membawanya menyeberangi pegunungan. 

Bersama momo, keterampilan membuatnya pun menyebar ke Bhutan dan Nepal.

Siapa yang pertama kali meraciknya? Tak ada jawaban pasti.

Hidangan berbahan tepung ini tak sekadar mengganjal perut. 

Kini, momo hadir dalam beragam variasi. Tak hanya dikukus dengan isian daging, momo juga disajikan dalam bentuk gorengan dengan siraman saus merah yang membuat lidahku bergoyang.

Kutanya pelayan restora n Paro Momo corner, “Mengapa sausnya berwarna merah?”

Menurut dia, warna merah itu bisa berasal dari perpaduan saus tomat dan cabai.

Daun ketumbar menambah aroma segar yang menggugah selera. 

Momo goreng yang kucicipi ternyata tidak keras, melainkan lembut, meskipun kulitnya cukup tebal.

Rasa manis saus berpadu dengan sensasi pedas dan sentuhan asam lemon, menciptakan perpaduan rasa yang menggoda.

Momo ini tak hanya mengganjal perut, tetapi juga membuatku ketagihan untuk terus menyantapnya hingga sepiring habis.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut