Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Mengapa di Thailand banyak restoran atau warung sederhana mendapat pengakuan dari Michelin Guide, sebuah panduan kuliner bergengsi yang berasal dari Prancis?
Apakah karena masakannya enak, restorannya mewah, atau pelayanannya yang baik? Pertanyaan-pertanyaan ini cukup umum muncul.
Jika penilaian didasarkan pada kemewahan restoran, dekorasi yang menarik, atau harga makanan yang mahal, apakah hal-hal tersebut menjadi ukuran utama?
Faktanya, banyak warung kecil dan lapak sederhana di Thailand juga menyandang logo merah Michelin.
Apakah pengakuan itu diberikan karena kualitas masakannya yang memang istimewa?
Michelin Guide pada dasarnya lebih menitikberatkan penilaian pada kualitas bahan makanan, teknik memasak, harmoni rasa, dan konsistensi.
Semua itu menjadi unsur penting dalam penilaian.
Namun, muncul pertanyaan mengenai rasa, karena tidak setiap orang memiliki selera yang sama.
Sedikit garam dalam kuah mungkin membuat seseorang merasa segar, tetapi bagi orang yang terbiasa dengan rasa asin, kuah tersebut bisa terasa hambar.
Lalu, bagaimana Michelin menentukan ukuran rasa yang dianggap istimewa?
Di sinilah muncul pertanyaan tentang standar penilaian yang digunakan, sebab rasa pada dasarnya bersifat subjektif.
Sekilas, hal ini seolah menyisakan ketidakpastian yang menarik untuk dikaji lebih jauh.***






Posting Komentar