Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Menariknya, menikmati kuliner di Thailand tak harus tahu namanya.
Sebab, membaca tulisan Thailand serasa menjadi orang buta huruf: tak paham dan tak tahu bagaimana membacanya.
Akhirnya, pesanan hanya berdasarkan feeling, gambar, dan tunjuk-tunjukan.
Syukur-syukur penjualnya bisa menjelaskan, sehingga kita tak salah pesan.
Berkali-kali aku salah menebak.
Foto menu yang kukira menampilkan makanan kesukaanku ternyata menyajikan sesuatu yang berbeda, baik isi maupun rasanya.
Salah satunya sop buntut yang kubanggakan.
Melihat gambar menu yang mirip sop buntut, aku pun memesannya.
Namun, karena komunikasi dalam bahasa setempat kurang lancar, yang tersaji justru sup tulang babi dengan rasa berbeda.
Aku tak kecewa. Justru salah tunjuk membuatku penasaran.
Rasanya asam, tetapi bukan karena jeruk nipis.
Aromanya pun khas, meski bukan berasal dari rempah-rempah yang biasa kukenal.
Ada sejenis daun di dalamnya yang membuatku bertanya-tanya, “Apa nama daun ini?”
Terlepas dari rasa dan aroma yang berbeda dari sup buntut yang selama ini kukenal, sup ini ternyata enak.
Tulang babinya terasa renyah, sementara dagingnya lembut dan nikmat saat digigit.
Ternyata, salah tunjuk tak selalu berujung petaka.
Kadang-kadang, justru membawa kita pada pengalaman baru yang tak terduga.
Di Thailand, aku belajar bahwa menikmati kuliner tak selalu harus diawali dengan memahami nama menunya.
Terkadang, cukup modal tunjuk, lalu biarkan lidah yang memberi penilaian.***





Posting Komentar