Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Banyak orang bertanya, “Kalau ke Bhutan, apa yang bisa dilihat?”
Biksu dan biara, tentu saja.
Pemandangan alamnya pun tak kalah menarik. Sungai-sungainya berair jernih, kadang kehijauan, kadang kebiruan.
Begitu jernih hingga kita seolah bisa berkaca tanpa cermin.
Lembah-lembahnya bagai cawan yang menampung awan, berlapis-lapis, seolah berlomba menuju tujuan yang tak pasti.
Di kota-kotanya, kehidupan bergerak tanpa tergesa-gesa, seakan tak ada aktivitas yang berlangsung dalam hiruk-pikuk.
Mobil-mobil melaju tanpa suara klakson, barangkali karena setiap orang telah memahami aturan masing-masing.
Tentu saja, tak ketinggalan biara-biara yang khusyuk. Ketenangan kota seolah berjalan seiring dengan kedamaian batin warganya.
Namun, Bhutan bukan semata-mata tentang pemandangan yang indah dan biara-biara yang menakjubkan.
Masih ada tradisi yang terus dipertahankan, salah satunya warisan leluhur dalam cara berpakaian.
Di Thimpu, Punakha, aku melihat kaum laki-laki mengenakan pakaian tradisional yang disebut gho, berupa jubah besar yang dilipat di bagian depan.
Bentuknya mengingatkanku pada pakaian pegulat, sehingga sempat membuatku bertanya-tanya: apakah mereka bisa bergerak dengan leluasa mengenakannya?
Ah, barangkali itu hanya kebiasaan yang tak perlu dipersoalkan.
Setiap bangsa punya cara sendiri dalam merawat warisan leluhurnya.***









Posting Komentar