Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Agak sulit kita mendefinisikan kata bahagia. Apa dan bagaimana sebenarnya bahagia itu?
Apakah bahagia berarti tertawa, merasa cukup, hidup sederhana, atau justru hidup mewah?
Pertanyaan ini selalu menjadi sebuah teka-teki, karena ukuran bahagia bagi setiap orang tentu berbeda.
Lalu, kapan sebuah negara disebut sebagai negara yang bahagia?
Apakah ketika semua kebutuhan sudah tercukupi? Atau ketika masyarakatnya merasa aman, tenang, dan memiliki kehidupan yang layak?
Mungkin kebahagiaan memang relatif. Barangkali, bahagia bukan tentang memiliki segalanya, tetapi tentang mampu merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
Lalu, apakah negara Bhutan adalah gambaran dari kebahagiaan seperti itu?
Kala kaki menginjak daratan negeri yang berbendera naga putih ini, pikiranku melayang-layang.
Aku pun tertantang untuk menemukan, melihat, dan merasakan seperti apa sesungguhnya sesuatu yang disebut bahagia.
Bahagia dalam kehidupan materi, ketika sandang dan pangan cukup, atau bahagia dalam kehidupan rohaniah, ketika beragama dijalankan dengan sempurna.
Apakah kedua kategori itu cukup bagi rakyat untuk merasa bahagia?
Bolak-balik kuputar otak, siapa tahu aku bisa menemukan jawabannya. Barangkali, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar cukup secara materi dan sempurna secara rohaniah.
Katakanlah, berapa gaji pegawai negeri di negara Bhutan? 30 ribu atau 50 ribu BTN, apakah cukup untuk mereka sekeluarga—bapak, ibu, dan anak?
Bayarkan sewa rumah, kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, dan kebutuhan lainnya, apakah semuanya bisa ditutup dengan sempurna?
Di sisi lain, aku juga melihat masih ada warga yang bermain lotre dengan santai.
Mereka duduk bersama, berbincang, dan terlihat menikmati permainan itu. Bahagia kelihatannya, ya?
Tapi, apakah benar mereka sedang bahagia?
Ataukah itu hanya salah satu cara menikmati hidup, mencari hiburan, atau sekadar berharap keberuntungan?
Sebuah pertanyaan yang sampai sekarang masih membuatku ragu.
Sebab, mungkin kebahagiaan tidak selalu bisa dihitung dari berapa banyak uang yang dimiliki, atau seberapa sederhana seseorang menjalani hidup.
Mungkin ada sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Dan untuk menemukan jawabannya, aku harus melihat Bhutan bukan hanya dari apa yang tampak di permukaan, tetapi juga dari kehidupan orang-orang biasa yang tinggal di dalamnya.***









Posting Komentar