Agar Gaya dan Gaul, Ngopi Kebiasaan Baru Kawula Muda di Tiongkok

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Tak sekadar menjadi tamu asing di Tiongkok, kini kopi hadir di hampir setiap kota besar di negeri itu. 

Minuman ini tampil semakin percaya diri, seolah mulai mampu bersaing dengan teh, minuman tradisional yang telah mengakar selama berabad-abad.

Meskipun bukan negara penghasil kopi utama, Tiongkok kini semakin akrab dengan budaya minum kopi. 

Sebagian besar biji kopi yang dikonsumsi berasal dari Brasil, Vietnam, dan sejumlah negara lainnya.

Namun, Tiongkok juga memiliki perkebunan kopi sendiri, terutama di Yunnan, yang turut menyumbang pasokan kopi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Di berbagai sudut kota di Tiongkok, kedai kopi ternama seperti Luckin Coffee, Cotti Coffee, dan Manner Coffee seolah menunjukkan eksistensinya. 

Masing-masing mempercantik gerai dan menawarkan kopi unggulannya.

Semua berlomba untuk memikat pengunjung agar datang silih berganti.

Besar atau kecilnya kedai bukan lagi persoalan. 

Yang terpenting, tempat itu bisa menjadi ruang sesuai gaya kawula muda untuk bersantai, dan berswafoto.

Saya melihat banyak pengunjung duduk santai, sesekali menggerakkan jari di layar ponsel. 

Seolah-olah, ponsel di tangan mereka jauh lebih menarik daripada kopi yang telah dipesan. 

Pemandangan ini membuat saya bertanya-tanya, apakah kedai kopi kini lebih menjadi ruang untuk menampilkan gaya hidup daripada sekadar menikmati secangkir kopi?

Sementara itu, soal rasa kopi tentu saja kembali kepada selera masing-masing pengunjung, terutama anak-anak muda yang datang.

Saya mampir ke salah satu kedai kopi di Chengdu. 

Yang membuat saya terkesima adalah beragam jenis kopi yang ditawarkan. 

Saya pun bingung harus memilih yang mana. 

Bagi saya, rasa manis bukanlah sesuatu yang mudah memanjakan lidah. 

Akhirnya saya memilih secara asal, entah yang bercita rasa matcha, cokelat, atau lainnya. 

Namun, rasanya tetap belum mampu menandingi kenikmatan teh Pu'er, oolong, atau chrysanthemum tea yang saya sukai.

Mungkin karena kebiasaan lidah disuguhi teh setiap hari, yang lain pun terasa minuman yang rada aneh. 

Barangkali, di tengah maraknya budaya kopi yang kian digemari anak muda Tiongkok, teh tetap menjadi teman yang paling akrab bagi lidah saya.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut