Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Makanan lokal Bhutan mungkin terasa berbeda dari hidangan Asia Tenggara, seperti di Malaysia, Indonesia, dan Singapura.
Masyarakatnya dikenal menyukai makanan pedas dan hidangan berbahan daging.
Barangkali, kondisi geografis Bhutan yang berada di kawasan pegunungan dengan udara dingin turut memengaruhi kebiasaan kuliner mereka.
Saat berkunjung ke Thimphu, aku tentu tak ingin melewatkan kesempatan untuk mencicipi hidangan khas setempat.
Pemandu wisataku merekomendasikan beberapa menu lokal.
Aku pun tak lupa bertanya, mana yang paling pedas.
Maklum, mencicipi kuliner lokal selalu menjadi bagian menarik dari setiap kunjungan ke negeri asing.
Akhirnya, beberapa masakan lokal pun kupesan.
Salah satunya adalah cabai hijau dengan bawang putih, menu yang belum pernah kucicipi sebelumnya.
Keputusanku memesan hidangan ini terinspirasi dari pengalamanku beberapa waktu lalu, ketika melihat orang lokal menikmati masakan cabai merah dengan bawang putih.
Aku jadi penasaran, siapa tahu rasanya enak.
Namun, ada satu hal yang sedikit kucemaskan: tingkat kepedasannya. Jangan-jangan, pedasnya begitu menyengat hingga membuat lidahku kebas.
Meski sedikit khawatir, aku pun siap menguji kemampuan lidah menghadapi pedasnya cabai Bhutan.
Kuambil sesendok cabai hijau untuk suapan pertama. Syukur-syukur, lidahku baik-baik saja.
Ternyata, apa yang kukhawatirkan tak seperti yang kubayangkan.
Namanya juga cabai, mestinya pedas. Tapi, kok, rasanya berbeda?
Ada rasa gurih yang menonjol, sementara aroma bawang putih dan keju seolah menutupi rasa pedas cabai.
Boleh jadi, rempah-rempah lain turut memberi andil sehingga rasa pedasnya tak begitu terasa.
Sensasi pedas yang kubayangkan pun seolah mereda perlahan.
Aku tak tahu pasti apa penyebabnya. Bisa jadi, persepsi terhadap rasa pedas antara orang Bhutan dan orang Indonesia memang berbeda.
Atau, mungkin juga, perpaduan bumbu dan cara pengolahannya membuat cabai hijau ini terasa berbeda dari yang kubayangkan.
Pengalaman ini menjadi bagian menarik dari petualangan kulinerku di Bhutan.
Ternyata, mencicipi makanan lokal bukan sekadar soal rasa, tetapi juga tentang mengenal kebiasaan dan cita rasa masyarakat setempat.
Dan kali ini, pertemuanku dengan pedasnya Bhutan justru menghadirkan kejutan yang menyenangkan.***








Posting Komentar