Oleh: Iman Sjahputra
YOGYAKARTA - Santai memang, bukan karena kediamannya, melainkan karena lokasinya yang jauh dari hiruk-pikuk.
Posisi itu membuat siapa pun yang datang seolah sejenak hilang dari segala kepusingan.
Orang ke sini juga bukan mencari makanan yang unik. Bukan pula karena tempatnya mewah.
Inilah Desa Bukit Sari, Cangkringan.
Perjalanan dari Yogya ke desa ini pun tak bikin lelah.
Sekitar satu jam dari Kota Pelajar, kita sudah bisa menemukan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk.
Dan di situ berdiri sebuah kedai, Dewandaru.
Boleh saja TikTok, Instagram, dan media sosial belum banyak mempublikasikannya. Justru mungkin di situlah daya tariknya.
Belum ramai, belum banyak diketahui. Hanya ketenangan desa yang membuat kita sejenak lupa pada kepusingan.
Ada ketenangan dalam batin ketika waktu tak lagi terasa tergesa-gesa.
Langkah berjalan perlahan, mata pun leluasa menikmati apa saja yang ada di depan.
Sampai pandanganku tertuju pada sebuah pohon yang tampak unik. Bentuknya membuat hati bertanya-tanya.
“Pohon sawo atau apa?” bisik hatiku dalam perjalanan di desa itu.
Ternyata bukan sawo. Itulah pohon kepel.
Seorang ibu yang baik Ny Anastasia memberitahuku bahwa pohon ini biasa tumbuh di lingkungan keraton.
Memang, sebuah pohon yang kurang dikenal, tetapi menyimpan cerita yang mungkin belum banyak diketahui orang.
Khasiatnya apa? Tak jelas.
Namun, sebuah buah tak mungkin tiada guna. Pasti ada alasan mengapa orang menanam dan menjaganya.***








إرسال تعليق