Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Keberagaman masyarakat Qinghai di Tiongkok tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai suku hidup rukun dan harmonis.
Warga yang terdiri atas suku Han, Tibet, dan Hui tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga berbaur dalam kehidupan bermasyarakat.
Mereka membuka restoran yang saling berdampingan atau berdekatan. Sebagian besar warga di sini adalah Muslim.
Namun, di jalanan tak heran jika di kedai-kedai kecil terlihat berbagai macam daging, baik halal maupun nonhalal.
Dagangan itu dipajang secara terbuka. Warga memahami bahwa hal tersebut merupakan bagian dari budaya mereka.
Makan daging pun menjadi kebiasaan sehari-hari.
Bagi warga Muslim, daging kambing dan domba bukanlah makanan mewah. Daging sudah menjadi bagian dari makanan sehari-hari.
Udara Qinghai yang dingin membuat masyarakat terbiasa menyantap makanan yang dapat menghangatkan tubuh sekaligus menambah tenaga.
Aku suka berjalan di antara warga. Kulihat asap mengepul di udara, bukan karena orang sedang membakar sampah, melainkan dari sebuah kedai yang sedang memanggang sate kambing.
Api menari-nari di atas tusukan sate yang sedang dibakar. Gemeretak aupi dan aroma sate seolah mencuri pandangan dan penciumanku. Rasanya ingin melahap semuanya.
Kupesan lima tusuk, sekadar mengobati kangen pada sate yang pernah kumakan di Xinjiang.
Aromanya tak jauh berbeda. Hanya cara memasak dan bumbunya yang mungkin menggunakan resep berbeda.
Di Xinjiang, dagingnya terasa agak alot. Berbeda dengan di Mojia Street, Xining. Di sini, dagingnya terasa lebih lunak.
Barangkali dua wilayah yang berbeda ini mempunyai resep yang tak serupa, meskipun sama-sama berada di dataran tinggi Tiongkok.
Mungkin memang begitu cara sebuah perjalanan bekerja. Satu aroma bisa membawa kita kembali pada tempat yang pernah kita datangi.
Dan lima tusuk sate di Xining sore itu, tiba-tiba membuatku kembali teringat pada Xinjiang.***









إرسال تعليق