Oleh: Iman Sjahputra
YOGYAKARTA - Boleh jadi pemiliknya sama, atau mungkin dapurnya yang sama.
Bentuk, rasa, dan barangkali bahannya pun tak jauh berbeda.
Setiap orang yang pernah makan dan mencicipinya selalu menyebutnya sebagai makanan jadul—makanan yang pernah mereka rasakan ketika masih menjadi pelajar, mahasiswa, bahkan ketika sudah memasuki masa pensiun.
Kulinernya pun sederhana: pecel, sup empal, dengan pendamping tempe dan tahu goreng.
Serba merakyat, kata mereka yang pernah mencicipi hidangan ini.
Harganya pun tak mehong-mehong. Maklum, harga mahasiswa pada zamannya.
Karenanya, ketika menyebut makanan ini, pikiran orang langsung tertuju ke kawasan kompleks UGM (Universitas Gadjah Mada), Yogyakarta.
Orang menyebutnya SGPC. Nama yang sudah melekat sejak dulu hingga sekarang.
Kali ini aku tak sempat mampir ke kedai yang di atas. Orang sekitar tempatku menginap justru merekomendasikan satu lokasi lain yang jualannya hanya di emperan.
Katanya, sajian makanannya sama seperti yang biasa kita santap di kedai lama.
“Ah, masa, ya?”
Tak percaya, tentu saja. Namanya juga rekomendasi.
Apalagi kalau yang ditawarkan adalah rasa nostalgia—rasa yang konon tak pernah berubah, meski tempat dan penjualnya berbeda.
Akhirnya, penasaran juga. Aku mencoba.
Persis, kata hatiku. Bedanya di mana, ya? Rasa tak beda.
Aroma pecel sedap. Bumbu kacang meresap dan tak kaleng-kaleng.
Supnya bening, gurih, dan kaldu ayamnya melekat.
Apa ada kaitan kedua kedai SGPC? Belum ada keterangan yang jelas.
Namun, rasa barangkali bisa bercerita banyak.
Ada kemungkinan keterikatan di antara kedua kedai SGPC tersebut, meski sampai sekarang belum terjawab.***








إرسال تعليق