Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Mungkin bukan soal rasa, barangkali juga bukan tentang tempat. Sebuah hidangan bisa terasa berbeda.
Bukan karena kurang garam, ataupun karena emosi yang berbicara.
Namun, suasana juga sangat menentukan. Apalagi ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang belum kita kenal asal-usulnya.
Kue bulan mungkin sudah banyak yang mengenalnya, terutama masyarakat dan etnis Tionghoa.
Bentuknya bulat, menyerupai bulan purnama, sebuah bentuk yang seolah mengingatkan kita pada wajah seorang perempuan yang sedang berseri di bawah cahaya bulan.
Bulat, sama wujudnya. Di mana-mana, Tiongkok dan Indonesia mengenal kue bulan. Bahkan di Tian Shui, bentuknya pun sama.
Hanya ukurannya yang berbeda, besar atau kecil, tergantung juru masak yang membuatnya.
Sepotong kue bulan di Tian Shui mungkin lebih besar dibandingkan ukurannya di Indonesia.
Rasa dan isiannya hanya satu ragam. Gigitan pertama di lidah terasa asing.
Namun, keasingan makanan ini justru membuatku mulai tergoda.
Ia tak hambar. Ada kacang, muaci hitam, dan rasa gula yang mendampingi penampilannya.
Very good, menurutku, apalagi disantap setelah keluar dari oven dapur.
Karenanya, aku memakannya bukan semata-mata karena rasa. Justru rasa yang unik dan asing itu membuatku bertanya-tanya: benda asing apa yang sedang kucicipi ini?***






إرسال تعليق